Sama Sama Untung
Penandatanganan kesepakatan ekstradisi Indonesia – Singapura Jumat pekan lalu di Istana Tapaksiring, Bali mendapat liputan luas berbagai media di Indonesia. Bahkan sebelum perjanjian itu ditandatangani. Menurut Strait Times, hampir semua media di Indonesia berfokus pada perjanjian ekstradisi, dibandingkan pakta pertahanan. "Padahal justru Singapura mengejar keuntungan lewat kerjasama militer dalam pakta pertahanan itu,"ujar Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.
Negeri kota itu memang membutuhkan lahan yang lebih luas untuk latihan militernya. Indonesia-lah yang memenuhi syarat, dan masih banyak bergantung pada Singapura. Terutama banyaknya modal yang lari ke negeri jiran itu, lewat konglomerat hitam yang tinggal dan "terlindungi" di Singapura selama ini.
Bagi Singapura, modal dari orang-orang Indonesia hanyalah dua sampai tiga persen dari 720 miliar Dolar Singapura investasi yang masuk ke negeri itu. "Ingat, ya, sektor keuangan negeri kami tak dibangun dari uang orang Indonesia. Tapi dari berbagai negara seperti India, Cina, Timur Tengah dan Eropa,"ujar sesepuh Singapura, Lee Kuan Yew. Bahkan Menteri Mentor itu yakin, pertumbuhan ekonomi negaranya tetap berada dikisaran 4,5 persen sampai 6,5 persen. "Asalkan ekonomi Amerika Serikat juga berjalan baik,"katanya.
Pernyataan Lee tersebut tak sejalan dengan laporan perusahaan pengelola keuangan Merril Lynch dan Capgemini. Menurut keduanya, 18 ribu pengusaha kaya Indonesia menyumbang 12 persen investasi di Singapura, dengan total dana sebesar 87 miliar US Dolar atau setara dengan Rp 850 triliun. "Mereka adalah pemain kunci dari pasar properti dan bisnis besar di bidang bank swasta," tulis Asia Pacific Wealth Report 2006.
Namun pernyataan Lee di atas membuat pasar di Singapura tak bergejolak terhadap penandatangani perjanjian ekstradisi itu. Menurut ekonom regional CIMB-CK Securities, Song Seng Wun, reaksi pasar sangat kalem menghadapi perjanjian terebut, tak ada pergerakan pelarian modal. "Kami tak melihat satupun Mercedes, Rolls Royce dan Tas Prada terbang ke luar Singapura,"ujarnya beranalogi.
Bagi Song, pebisnis di Singapura secara umum tak kawatir dengan perjanjian itu. "Karena mereka sudah tahu sejak lama. Mereka sudah mengerti yang harus mereka lakukan sebelumnya,"katanya. Pemerintah Singapura, lewat media yang diaturnya, selalu memberi informasi setiap ada perkembangan perjanjian dengan negara lain. Sehingga kalangan dunia usaha sudah siap, dan pasar tidak kaget dengan hasil terakhirnya.
Kalaupun ada reaksi, menurut manajer Jakarta pada Risk Management Advisory, Ken Conboy, cuma sebentar. Dalam soal perjanjian ekstradisi itu, Conboy yakin tak menjadikan para buronan ekonomi Indonesia cepat dideportasi kembali. "Para buronan itu perlahan-lahan akan mencari tempat dimana tak ada perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan negara tujuan,"ujar penulis buku Kopassus dan Intel itu.
Perkiraan Conboy, tak meleset, sejumlah pengemplang bank keturunan Cina Indonesia, ditemui sumber Tempo tampak berkeliaran dan membuka usaha di Yaman. "Disini lebih aman dan tak diduga, dibandingkan membuka usaha di Singapura, Australia atau Cina,"ujar sumber itu mengutip bekas penguasa asal Glodok tersebut.
Bagi Wakil Presiden Jusuf Kalla berapapun besarnya modal yang akan balik ke Indonesia dengan perjanjian ekstradisi tersebut, tetap penting bagi perkembangan ekonomi Indonesia. "Berapapun jumlahnya uang yang dilarikan dari Indonesia sangat besar dan penting, dan harus kembali kesini,"ujarnya.
Sejalan dengan Jusuf Kalla, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong yang menjadi saksi dalam penandatangan perjanjian kedua negara tersebut, menyatakan kerjasama itu akan menguntungkan kedua negara. "Keduanya mendapatkan keuntungan yang seimbang dari perjanjian tersebut," kata Lee.
Selain persoalan ekonomi dan modal koruptor yang diharapkan segera kembali, menurut Presiden Yudhoyono, kerjasama ini untuk meningkatkan profesionalisme kemampuan dan akses teknologi moderen militer Indonesia. " Keuntungan Singapura akan turut ambil bagian dalam membangun infrastruktur di daerah latihan militer dan ini akan menciptakan suasana yang stabil di ASEAN, termasuk mengamankan Selat Malaka," ujarnya.
sources : Tempo, EUXTV, Xinhua, TNR dan Reuters
Monday, May 7, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Hi! I think that yours blog is very interesting, I have many cultural things and good, that in them brings information on different countries, I also like some cultures, religions and places, am everything this wonderful one!
Hi! good bye!
Post a Comment